Ketika Semua Orang Merasa Benar

Siluet beberapa orang berdiri saling membelakangi dengan ekspresi yakin

Ada masa ketika perbedaan pendapat terasa sehat. Sekarang, rasanya berbeda. Bukan lagi soal siapa yang punya argumen paling kuat, tapi siapa yang paling yakin dirinya tidak mungkin salah.

Di ruang publik, keyakinan sering terdengar lebih keras daripada keraguan. Dan mungkin itu bukan kebetulan.

Semua Punya Versi, Sedikit yang Mau Diam

Opini tumbuh cepat. Terlalu cepat. Setiap orang membawa versi sendiri tentang kebenaran, lengkap dengan pembenaran. Diam sering dianggap kalah. Ragu dianggap lemah.

Padahal tidak semua hal butuh respons. Tidak semua pikiran perlu diumumkan. Tapi dorongan untuk ikut bicara sering lebih kuat daripada kebutuhan untuk memahami.

Keyakinan Memberi Rasa Aman

Merasa benar itu menenangkan. Ia memberi posisi. Memberi pijakan. Ketika dunia terasa kacau, opini menjadi pegangan kecil yang membuat kita merasa utuh.

Masalahnya, rasa aman ini rapuh. Begitu ada yang menantang, kita bereaksi. Bukan untuk mendengar, tapi untuk mempertahankan. Di titik ini, opini berubah dari pandangan menjadi identitas.

Dan identitas jarang mau digeser.

Ketika Mendengar Dianggap Menyerah

Ada momen ketika mendengarkan pendapat lain dianggap kompromi yang berbahaya. Seolah-olah membuka telinga berarti mengkhianati diri sendiri.

Padahal mendengar tidak selalu berarti setuju. Tapi budaya kita sering mencampuradukkan keduanya. Akhirnya, percakapan berubah jadi adu posisi. Bukan lagi ruang tukar pikiran, tapi arena pembuktian.

Dunia seperti ini terasa familiar. Dunia yang dibentuk oleh opini yang saling menguatkan dirinya sendiri, seperti yang dibahas dalam refleksi dunia-yang-terbentuk-dari-opini. Bukan dunia yang sepakat, tapi dunia yang keras kepala.

Benar Menurut Siapa

Pertanyaan ini jarang diajukan dengan jujur. Benar menurut data. Benar menurut pengalaman. Benar menurut kelompok. Atau benar karena terasa nyaman.

Sering kali, kebenaran yang kita bela bukan yang paling akurat, tapi yang paling sesuai dengan cerita tentang diri kita. Dan mungkin itu manusiawi. Tapi tetap perlu disadari.

Ambiguitas yang Tidak Nyaman

Tidak semua hal punya jawaban bersih. Ada wilayah abu-abu yang tidak bisa dirapikan tanpa kehilangan makna. Tapi ambiguitas membuat gelisah. Kita ingin garis tegas. Hitam atau putih.

Sayangnya, hidup jarang sesederhana itu. Ketika semua orang merasa benar, mungkin yang hilang bukan kebenaran, tapi kesediaan untuk hidup dengan ketidakpastian.

Mungkin Kita Tidak Perlu Selalu Benar

Ada kelegaan aneh saat mengakui, “gue bisa aja salah.” Bukan karena menyerah, tapi karena memberi ruang. Ruang untuk berubah. Ruang untuk belajar. Ruang untuk bernapas.

Opini seharusnya membantu kita melihat dunia, bukan menutupnya. Dan mungkin, di tengah kebisingan keyakinan, keraguan kecil justru jadi bentuk kejujuran paling langka.